Nawa Dewata Sanga - Bayuajuzt
Headlines News :
Home » » Nawa Dewata Sanga

Nawa Dewata Sanga

Written By Bayu ajuzt on Sabtu, 03 Maret 2012 | 19.26

Dewata Nawa Sanga, 9 Dewa Peguasa Mata Angin
1. Definisi
Dewata Nawasanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa.
2. Penjelasan Tentang Atribut Dewata Nawasanga
a. Dewa Wisnu
Arah : Utara/Uttara
Pura : Batur
Aksara : Ang
Senjata : Cakra
Warna : Hitam
Urip : 4
Panca Wara : Wage
Sapta Wara : Soma
Sakti : Dewi Sri
Wahana : Garuda
Fungsi : Pemelihara
b. Dewa Sambhu
Arah : Timur Laut/Airsanya
Pura : Besakih
Aksara : Wang
Senjata : Trisula
Warna : Biru/Abu-Abu
Urip : 6
Panca Wara :
Sapta Wara : Sukra
Sakti : Dewi Mahadewi
Wahana : Wilmana
c. Dewa Iswara
Arah : Timur/Purwa
Pura : Lempuyang
Aksara : Sang
Senjata : Bajra
Warna : Putih
Urip : 5
Panca Wara : Umanis
Sapta Wara : Redite
Sakti : Dewi Uma
Wahana : Gajah Putih
d. Dewa Maheswara
Arah : Tenggara/Ghnenya
Pura : Goa Lawah
Aksara : Nang
Senjata : Dupa
Warna : Dadu/Merah Muda
Urip : 8
Panca Wara :
Sapta Wara : Wrhaspati
Sakti : Dewi Laksmi
Wahana : Merak
e. Dewa Brahma
Arah : Selatan/Daksina
Pura : Andakasa
Aksara : Bang
Senjata : Gada
Warna : Merah
Urip : 9
Panca Wara : Paing
Sapta Wara : Saniscara
Sakti : Dewi Saraswati
Wahana : Angsa
Fungsi : Pencipta
f. Dewa Rudra
Arah : Barat Daya/Nairiti
Pura : Uluwatu
Aksara : Mang
Senjata : Moksala
Warna : Jingga
Urip : 3
Panca Wara :
Sapta Wara : Anggara
Sakti : Dewi Samadhi
Wahana : Kerbau Putih
g. Dewa Mahadewa
Arah : Barat/Pascima
Pura : Batukaru
Aksara : Tang
Senjata : Naga Pasa
Warna : Kuning
Urip : 7
Panca Wara : Pon
Sapta Wara : Buda
Sakti : Dewi Sanci
Wahana : Naga
h. Dewa Sangkara
Arah : Barat Laut/Wayabhya
Pura : Puncak Mangu
Aksara : Sing
Senjata : Angkus
Warna : Hijau/Welis
Urip : 1
Panca Wara :
Sapta Wara : Sukra
Sakti : Dewi Rodri
Wahana : Singa
i. Dewa Siwa
Arah : Tengah/Madya
Pura : Besakih
Aksara : Ing/Yang
Senjata : Padma
Warna : Panca Warna
Urip : 8
Panca Wara : Kliwon
Sapta Wara :
Sakti : Dewi Durga
Wahana : Lembu
Fungsi : Pelebur
3. Penjelasan Tentang Pura
a. Pura Batur terletak di Kabupaten Bangli
b. Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem
c. Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem
d. Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung
e. Pura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem
f. Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung
g. Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan
h. Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung























. PEMBAHASAN
3.1. Deskripsi Konsep Warna Dalam Dewata Nawa Sanga
Dewata Nawa Sanga digambarkan dengan menggunakan simbol yang berhubungan satu dengan yang lainnya , yang terdiri dari :
1. 1. Gambar dalam bentuk simbol Deva
2. 2. Gambar dalam bentuk senjata
3. 3. Gambar dalam bentuk simbol organ dalam ( jejeron ) manusia
4. 4. Gambar dalam bentuk warna
5. 5. Gambar dalam bentuk simbol lingkungan
Secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut :
No Arah Mata Angin Nama Dewa Senjata Simbol organ
( jeroan ) Warna Simbol
lingkungan
1 Utara Wisnu Cakra Empedu Hitam Air
2 Selatan Brahma Gada Hati Merah Api
3 Timur Iswara Bajra Jantung Putih Angin
4 Barat Mahadewa Nagapasah Dubur Kuning Kabut
5 Barat laut Sangkara Angkus Limpa Hijau Mendung
6 Timur laut Sambu Trisula Jaringan Biru Awan tebal
7 Tenggara Mahesora Dupa Paru Dadu Rambu (awan tipis)
8 Barat daya Rudra Moksala Usus Jingga Halilintar
9 Tengah Ciwa Padma Kerongkongan Panca
Warna Topan
Mengingat konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga berhubungan dengan filsafat dimana hal-hal yang berhubungan dengan budaya serta filsafat sulit sekali untuk menjelaskan maknanya melalui pemberian definisi , maka sesuai dengan teknik analisis data yang disampaikan dalam pendahuluan, pembahasan, analisis konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga akan menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami dengan menggabungkannya dengan analisis kolokial ( colloquial analysis) dari David Cooper, dimana pemberian makna terhadap sesuatu menggunakan makna kolokialnya
Berdasarkan hal tersebut di atas maka deskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah sebagai berikut :
1. Warna Hitam
X adalah hitam =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah utara
c) Ada Dewa Wisnu berkuasa disana
d) Dewa Wisnu membawa senjata Cakra
e) Jika menggunakan jeroan maka empedulah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang air
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 2. Warna Putih
X adalah putih =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah timur
c) Ada Dewa Iswara berkuasa disana
d) Dewa Iswara membawa senjata Bajra
e) Jika menggunakan jeroan maka jantunglah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 3. Warna Merah
X adalah merah =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah selatan
c) Ada Dewa Brahma berkuasa disana
d) Dewa Brahma membawa senjata Gada
e) Jika menggunakan jeroan maka hatilah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang api
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 4. Warna Kuning
X adalah kuning =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat
c) Ada Dewa Mahadewa berkuasa disana
d) Dewa Mahadewa membawa senjata Nagasapah
e) Jika menggunakan jeroan maka duburlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang kabut
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 5. Warna Hijau
X adalah hijau =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat laut
c) Ada Dewa Sangkara berkuasa disana
d) Dewa Sangkara membawa senjata Angkus
e) Jika menggunakan jeroan maka limpalah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang mendung
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 6. Warna Biru
X adalah biru =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah timur laut
c) Ada Dewa Sambu berkuasa disana
d) Dewa Sambu membawa senjata Trisula
e) Jika menggunakan jeroan maka jaringanlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 7. Warna Dadu
X adalah dadu =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah tenggara
c) Ada Dewa Mahesora berkuasa disana
d) Dewa Wisnu membawa senjata Dupa
e) Jika menggunakan jeroan maka parulah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang awan yang tipis
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 8. Warna Jingga
X adalah jingga =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat daya
c) Ada Dewa Rudra berkuasa disana
d) Dewa Rudra membawa senjata Moksala
e) Jika menggunakan jeroan maka ususlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang halilintar
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 9. Warna Brumbun / Panca Warna ( warna campuran antara putih + hitam + merah + kuning
X adalah brumbun =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan ditengah-tengah
c) Ada Dewa Ciwa berkuasa disana
d) Dewa Ciwa membawa senjata Padma
e) Jika menggunakan jeroan maka kerongkonganlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang topan
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
Berdasarkan deskripsi warna diatas, dapatl dikatakan bahwa secara filosofis konsep warna paling berhubungan dengan arah mata angin. Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang diambil dari 2 sumber yaitu
A. Geguritan Gunatama
Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :
Bunga petak maring purwa,
kembang jingga gnewan sami,
sekar abang ring daksina,
ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia,
Bunga ireng ring utara,
ersania birune sami,
mancawarnane ring madia,
punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar,
to uningin, patute anggon padapa.
Geguritan tersebut berarti :
“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “
1. B. Kidung Aji Kembang yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka )
1) Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara Dewatannya.
Ring papusuh prehania, alinggih sira kalihan, panteste
kembange petak.Ri tembe lamun numadi suka sugih
tur rahayu dana punya stiti bakti
2) Ring geneyan tunjunge dadu, Mahesora Dewatannya
Ring peparu prenahira. Alinggih sira kalihan, Pantesta
kembange dadu, Ri tembe lamun dumadi
widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana
3) Ring daksina tunjunge merah, Sang Hyang Brahma Dewatannya
Ring hati prenahira. Alinggih sira kalihan
Pantesta kemabng merah. Ring tembe lamun dumadi
Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji
4) Ring Nriti tunjunge jingga. Sang Hyang Rudra Dewatannya
Ring usus prenahira,Alinggih sira kalihan. Pantes
te kembange jingga, Ring tembe lamun numadi,
Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi
5) Ring Pascima tunjunge jenar, Mahadewa Dewatannya
Ring ungsilan prenahira, Alinggih sire kalihan, Pantesta
kemabnge jenar, Ring tembe lamun dumadi,
Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji
6) Ring wayabya tunjunge wilis, Hyang Sangkara Dewatannya
Ring lima pranahira, alinggih sira kalihan. Pantesta
kembang wilis. Ring tembe lamun dumadi, Teleb
tapa brata, gorawa satya ring bhudi
7) Ring utara tunjungeireng. Sang Hyang Wisnu Dewatannya
Ring ampu prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange ireng, Ring tembe lamun numadi,
Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati
8) Ring airsanya tunjunge biru . Sang Hyang Sambu Dewatannya
Ring ineban prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange biru , Ring tembe lamun numadi,
Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga
9) Tengah tunjunge mancawarna . Sang Hyang CiwaDewatannya
Tumpukung hati prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange mancawarna , Ring tembe lamun numadi,
Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga, tambahan yang diberikan adalah adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut :
¨ penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna biru akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan)
¨ penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sabar serta menjalankan Dharma, susila,
¨ penggunaan tunjung warna hijau akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan )
¨ penggunaan tunjung warna kuning akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur
¨ penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan dan senantiasa menimbulkan kedamaian
¨ penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang
Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay, dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.
3. Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu )
Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :
1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal
2. Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan
3. Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, ß kekeuatan angin
4. Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process:
5. Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet:
6. Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan à banjir à kesedihan:
7. Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin
8. Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.
9. Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa Konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini didukung oleh pendapat Anne Wierbicka ( 1996 ) yang menyatakan bahwa konsep warna bisa diciptakan pada setiap kelompok masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan sebagainya. Oleh karena itu dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia, istilah warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar mengandung domain semantik pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai kerangka referensi yang fundamental
Penggunaan simbol yang merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan menimbulkan makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.
4. SIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Makna warna dalam Dewata Nawa Sanga secara khusus dan dalam Agama Hindu secara umum memiliki konotasi yang sangat kuat dengan arah mata angin. Disamping makna konotatif tersebut, makna warna dalam Agama Hindhu banyak mengacu pada simbol-simbol seperti simbol senjata , simbol organ dalam tubuh, serta simbol lingkungan. Oleh karena itulah makna warna dalam Dewata Nawa Sanga memiliki makna konotatif, asosiatif,khusus, dan kolokatif.
1. Ada perbedaan makna warna yang terdapat dalam Dewata Nawa Sanga dan makna warna yang diuraikan dengan menggunakan analisis Metabahasa Semantik Alami oleh Anne Wierbicka ( 1996). Hal ini karena warna dalam Dewata Nawa sanga memiliki makna khusus sesuai dengan filsafat Agama Hindhu. Namun meskipun demikian dengan melalui analisis makna yang lebih detail, ditemukan bahwa sebenarnya makna warna yang ada pada masyarakat didunia ini adalah sama diantara kekhususan yang ada.
2. Universal karena filsafat , religious berdasarkan filasafat Timur yang lebih dulu ada dibandingkan filsafat Barat. Oleh karena itu jelas filsafat Barat berorientasi pada filsafat Timur. Konsep warna merupakan konsep yang ada juga pada filsafat Timur, sehingga analisis dari konsep warna ditinjau dari filsafat Barat ( ilmu pengetahuan ) merupakan konsep yang universal . Filsafat Timur kurang berkembang karena tentang agama sedangkan filsafat Barat yang berkembang karena tentang ilmu pengetahuan.
















DEWATA NAWA SANGA


ERSANYA / TIMUR LAUT
Urip : 6;
Dewa : Sambu;
Sakti : Maha Dewi;
Senjata : Trisula;
Warna : Biru;
Aksara : Wa;
Bhuwana Alit : Ineban;
Tunggangannya : Wilmana;
Bhuta : Pelung;
Tastra : Pa dan Ja;
Sabda : Mang mang;
Wuku : Kulantir,Kuningan,Medangkungan,Kelawu;
Caturwara : Sri;
Sadwara : Urukung;
Saptawara : Sukra;
Astawara : Sri;
Sangawara : Tulus;
Dasawara : Sri;
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta;
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah.


PURWA / TIMUR
Urip : 5;
Dewa : Iswara;
Sakti : Uma Dewi;
Senjata : Bajra;
Warna : Putih;
Aksara : Sa (Sadhya);
Bhuwana Alit : Pepusuh;
Tunggangannya : Gajah;
Bhuta : Jangkitan;
Tastra : A dan Na;
Sabda : Ngong ngong;
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut;
Dwiwara : Menga;
Pancawara : Umanis;
Sadwara : Aryang;
Saptawara : Redite;
Astawara : Indra;
Sangawara : Dangu;
Dasawara : Pandita;
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti;
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha.

GENYA / TENGGARA
Urip : 8;
Dewa : Mahesora;
Sakti : Laksmi Dewa;
Senjata : Dupa;
Warna : Dadu/Merah Muda;
Aksara : Na;
Bhuwana Alit ; Peparu;
Tunggangannya : Macan;
Bhuta : Dadu;
Tastra : Ca dan Ra;
Sabda : Bang bang;
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung;
Caturwara : Mandala;
Sadwara : Paniron;
Saptawara : Wraspati;
Astawara : Guru;
Sangawara : Jangu;
Dasawara : Raja;
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda;
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah.


DAKSINA / SELATAN
Urip : 9;
Dewa : Brahma;
Sakti: Saraswati Dewi;
Senjata : Gada / Danda;
Warna : Merah;
Aksara : Ba;
Bhuwana Alit : Hati;
Tunggangannya : Angsa;
Bhuta : Langkir;
Tastra : Ka dan Da;
Sabda : Ang ang;
Wuku : Wariga, Pujut, Menail;
Triwara : Pasah;
Pancawara : Paing;
Sadwara : Was;
Saptawara : Saniscara;
Astawara : Yama;
Sangawara : Gigis;
Dasawara : Desa;
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu;
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha.

NORITYA / BARAT DAYA
Urip : 3;
Dewa : Rudra;
Sakti : Santani Dewi;
Senjata : Moksala;
Warna : Jingga;
Aksara : Ma;
Bhuwana Alit : Usus;
Tunggangannya : Kebo;
Bhuta : Jingga;
Tastra : Ta Dan Sa;
Sabda : Ngi ngi;
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat;
Caturwara : Laba;
Sadwara : Maulu;
Saptawara : Anggara;
Astawara : Ludra;
Sangawara : Nohan;
Dasawara : Manusa
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus;
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha.

PASCIMA / BARAT
Urip : 7;
Dewa : Mahadewa;
Sakti : Saci Dewi;
Senjata : Nagapasa;
Warna : Kuning;
Aksara : Ta;
Bhuwana Alit : Ungsilan;
Tunggangannya : Naga;
Bhuta : Lembu Kanya;
Tastra : Wa dan La;
Sabda : Ring ring;
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala;
Triwara : Kajeng;
Pancawara : Pon;
Sadwara : Tungleh;
Saptawara : Buda;
Astawara : Brahma;
Sangawara : Ogan;
Dasawara : Pati;
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini;
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.


WAYABYA / BARAT LAUT
Urip : 1;
Dewa : Sangkara;
Sakti : Rodri Dewi;
Senjata : Angkus /Duaja;
Warna : Wilis / Hijau;
Aksara : Si;
Bhuwana Alit : Limpa;
Tunggangannya : Singa;
Bhuta : Gadang/Hijau;
Tastra : Ma dan Ga;
Sabda : Eng eng;
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu;
Ekawara : Luang;
Caturwara : Jaya;
Astawara : Kala;
Sangawara : Erangan;
Dasawara : Raksasa;
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning;
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha.

UTTARA / UTARA
Urip : 4;
Dewa : Wisnu;
Sakti : Sri Dewi;
Senjata : Cakra;
Warna : Ireng / Hitam;
Aksara : A;
Bhuwana Alit : Ampru;
Tunggangannya : Garuda;
Bhuta : Taruna;
Tastra : Ba dan Nga;
Sabda : Ung;
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang;
Dwiwara : Pepet;
Triwara : Beteng;
Pancawara : Wage;
Saptawara : Soma;
Astawara : Uma;
Sangawara : Urungan;
Dasawara : Duka;
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra;
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.

MADYA / TENGAH
Urip : 8;
Dewa : Siwa;
Sakti : Uma Dewi (Parwati);
Senjata : Padma;
Warna : Panca Warna;
Aksara : I (Isana) dan Ya;
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati;
Tunggangannya : Lembu;
Bhuta : Tiga Sakti;
Tastra : Ya dan Nya;
Sabda : Ong;
Saptawara : Kliwon;
Sangawara : Dadi;
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta;
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha.


























Bagian-bagian Nawa Dewata
Arah Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan
Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tengah

Dewa Wisnu
Sambhu
Iswara
Maheswara
Brahma
Rudra
Mahadewa
Sangkara
Siwa

Shakti Sri
Mahadewi
Uma
Lakshmi
Saraswati
Samodhi
Sachi
Rodri
Durga

Senjata Chakra
Trisula
Bajra
Dupa
Gada
Moksala
Nagapasa
Angkus
Padma

Wahana Garuda
Wilmana
Gajah
Macan
Angsa
Kerbau
Naga
Singa
Lembu

Warna Hitam
Biru
Putih
Dadu
Merah
Jingga
Kuning
Hijau
Pancawarna
Bhuta Taruna Pelung Jangkitan Dadu Langkir Jingga Lembu Kanya Gadang Tiga Sakti
Aksara A Wa Sa Na Ba Ma Ta Si I / Ya
Urip 4 6 5 8 9 3 7 1 8
Triwara Beteng - Kajeng - Pasah - - - -
Caturwara - Sri Laba Jaya Menala - - - -
Pancawara Wage - Umanis - Pahing - Pon - Kliwon
Sadwara - Aryang Urukung Paniron Was Maulu Tungleh - -
Saptawara Soma Sukra Redite Wraspati Saniscara Anggara Buddha - -
Astawara Uma Sri Indra Guru Yama Rudra Brahma Kala -
Sangawara Urungan Tulus Dadi Dangu Jangur Gigis Nohan Ogan Erangan
Wuku Ukir, Dungulan,
Tambir, Wayang Kulantir, Kuningan,
Medangkungan, Kulawu Tolu, Langkir,
Matal, Dukut Gumbreg, Medangsia,
Uye, Watugunung Wariga, Pujut,
Menail Warigadian, Pahang,
Prangbakat Sinta, Julungwangi,
Krulut, Bala Landep, Sungsang,
Merakih, Ugu -
Sasih Kasa Karo, Katiga Kapat Kalima, Kanem Kapitu Kaulu, Kasanga Kedasa Jyesta, Sadha -
Bhuwana
Alit Ampru Ineban Pepusuh Peparu Hati Usus Ungsilan Limpa Tumpuking
hati
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Bayuajuzt - All Rights Reserved
Template Edited by Bayuajuzt Published by Bayuajuzt Blog